Ungaran, 12:26 a.m
10-6 class of smansa one ungaran
Ketika awal revolusi besar merubah hidupku, dan ketika jalinan persahatan yang baru mulai mengajak Walaupun saat itu juga aku menjadi sangat takut untuk menyambutnya kembali dengan kedua tangan yang aku miliki saat ini.
Aku tidak tahu, mengapa setelah MOS berakhir dan setelah 2 bulan ini aku duduk di bangku SMA, aku menjadi sasaran yang paling empuk didekati oleh beberapa temanku, karena faktor Mas Lintang memang dekat denganku saat MOS, awalnya adalah seniorku di Taekwondo yang saat itu ternyata menjadi pengurus OSIS dan kebetulan juga menjadi panitia MOS yang paling banyak ditaksir sama anak-anak. Teman- teman semasa SMP pun juga tak mau kalah, hingga menurutku mereka berubah baik untuk sekarang ini. Apalagi MOS adalah waktu yang paling kurang baik atau malah waktu yang paling menyebalkan, ketika kau tak punya kenalan kakak kelas satupun.
“Hei mel, mas Lintang itu keren ya? Liat gak tadi pas upacara sewaktu nerima medali? Keran bangeet” kata temanku yang tiba tiba nongol dari pintu kelas. Aku tak heran kerap kali ketika mereka mengelu-elukan sosok yang akrab dipanggil Mas Lintang itu. Memang manis, walupun kulitnya tidak seputih orang barat sana, tapi sawo matangnya itu justru menambah kemanisan di wajahnya ditambah dengan kedua lesung pipinya itu. Ah, kalau yang seperti ini aku tak mau, sama saja aku diperbudak oleh teman-temanku. Tak berbeda dengan masa laluku. Ketika aku hanya dimanfaatkan dan hanya menjadi sesosok orang yang pendiam.
Dan akhirnya aku mulai meninggalkan mereka, mulai berbagi dengan teman sebangkuku Izzi. Sepertinya asik, berbeda kalau menurutku. Lama-lama aku mulai mendapatkan 3 orang teman cowok yang ternyata memang pintar-pintar. Ada Sani, Arya dan juga Rama.
“Hei, kamu Sani ya? Yang dulu 1 SD sama aku? Tapi beda kelas.. iya kan?
“Eh iya, kok tau? Dulu SD Ungaran 01, 03, 06 ya?” jawabnya kemudian
“Dulu kan aku Majorette pas SD, satu-satunya Majorette dari kelas Unggulan, masa lupa?”
“Masa sih? Kok aku gak tau?” sahutnya lagi
“Yee, jahat nih.. yah pokoknya aku kenal kamu.. hehe”
Tapi kau tahu, pertemanan barupun bukan yang sejati teman, dan aku merasakan itu. Setelah aku berteman dengan mereka, itu hanya bertahan hanya untuk beberapa bulan saja.
Aku tak begitu suka dengan ego mereka, terlalu egois dalam bertindak. Dan aku memang jujur tak suka sekali dengan orang seperti mereka, apalagi wildan. Banyak orang yang berkata bahwa dia yang sekarang berbeda dengan dia yang dulu. Walaupun tak tau, aku hanya diam, dan tetap berfikiran positif kepada dia. Kadang banyak orang yang kharakternya memang kadang kita kesali, tapi pasti ada sesuatu pada diri mereka yang kadang juga menjadi suatu kelebihan yang ada di dalam mereka.
Setelah lama aku berada di kelas ini, aku segera beradaptasi dengan lingkungan kelas baruku, aku mulai bertemu dengan beragam sosok teman seperti Abel dan Susan yang selalu nampak modis setiap harinya. Dan nanti pada awal semester dua, aku juga bertemu teman seperti Chandra dan Angga yang selalu saja nampak seru dengan cerita hidup mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar